Setiap hari, kita berinteraksi dengan banyak orang, dan dalam setiap interaksi itu, lisan kita memegang peranan penting. Lidah memang tak bertulang, tapi kekuatannya bisa jauh lebih tajam dari pedang. Kata-kata yang terucap dapat membangun, menguatkan, bahkan menghibur. Namun, tak jarang pula, kata-kata buruk yang keluar dari lisan kita justru melukai, merusak, dan meninggalkan luka yang sulit tersembuh.
Dalam kesibukan dan tekanan hidup, kadang kita mudah terpancing emosi. Sedikit saja gesekan, lisan kita bisa lepas kendali. Kata-kata kasar, caci maki, atau gosip yang menyakitkan dengan mudah terlontar. Kita mungkin merasa lega sesaat setelah melampiaskan, tapi pernahkah kita berpikir tentang dampak jangka panjangnya? Kata-kata buruk itu bagaikan anak panah yang melesat, sulit ditarik kembali setelah melukai sasaran.
Maka, penting bagi kita untuk selalu menjaga lisan. Ini bukan hanya tentang menghindari dosa, tapi juga tentang membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Sebelum berbicara, luangkan waktu sejenak untuk merenung: “Apakah kata-kata ini benar? Apakah kata-kata ini bermanfaat?” Jika jawabannya tidak, lebih baik diam.
Membiasakan diri untuk berbicara yang baik adalah sebuah latihan. Mulailah dengan menahan diri saat emosi memuncak. Carilah cara lain untuk melampiaskan perasaan negatif, seperti menulis jurnal, berolahraga, atau berdoa. Ingatlah bahwa kesabaran dan empati adalah kunci untuk mengendalikan lisan.
Ketika kita mampu menguasai lisan, kita tidak hanya menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih baik. Kata-kata yang positif akan memancarkan energi baik dan menarik hal-hal positif pula dalam hidup kita. Mari jadikan lisan kita sebagai sumber kebaikan, bukan sumber petaka. Biarlah setiap kata yang keluar dari mulut kita menjadi berkah bagi diri sendiri dan orang lain.
Penulis: Google Gemini.
Pengantar Ide: Anton Sulistiyono.