
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut kita untuk selalu “lebih”—lebih cepat, lebih kaya, lebih sukses—kita sering kali terjebak dalam mentalitas kekurangan. Kita lebih mudah menghitung apa yang belum kita miliki daripada menyadari apa yang sudah ada di genggaman.
Padahal, jika kita berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam, kita akan menyadari bahwa hidup kita ditenun oleh ribuan benang kebaikan Tuhan yang sering kali luput dari perhatian.
1. Kebaikan dalam Hal-Hal “Kecil”
Sering kali kita menunggu mukjizat besar untuk merasa bersyukur. Padahal, kebaikan Tuhan paling nyata ada dalam hal-hal yang kita anggap biasa:
-
Napas yang otomatis: Kita tidak perlu memesan oksigen setiap pagi.
-
Tubuh yang bekerja diam-diam: Jantung yang berdetak tanpa instruksi dan sel-sel yang memulihkan diri saat kita tidur.
-
Keindahan indra: Kemampuan mengecap rasa kopi yang hangat atau melihat warna jingga saat matahari terbenam.
“Syukur bukan hanya soal berkata ‘terima kasih’, tapi soal melatih mata untuk melihat keajaiban dalam rutinitas yang membosankan.”
2. Kebaikan di Balik Kesulitan
Ini adalah bagian yang paling menantang. Bagaimana kita mensyukuri kegagalan atau kesedihan? Secara universal, tantangan sering kali adalah cara Tuhan “mencuci” jiwa kita atau mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik.
-
Kegagalan mengajari kita kerendahan hati.
-
Kehilangan mengajari kita untuk menghargai kehadiran.
-
Penantian mengajari kita kesabaran.
Kebaikan Tuhan tidak selalu berbentuk “hadiah” yang manis; kadang ia berbentuk “obat” yang pahit namun menyembuhkan.
3. Menjadi Perpanjangan Tangan
Mensyukuri kebaikan Tuhan tidak berhenti pada diri sendiri. Syukur yang paling murni adalah ketika kita menyadari bahwa kita telah diberi begitu banyak, sehingga kita merasa perlu membaginya. Saat kita menjadi baik kepada sesama, kita sebenarnya sedang merayakan kebaikan Tuhan yang mengalir melalui kita.
Penutup: Sebuah Refleksi Singkat
Coba ingat satu momen hari ini di mana sesuatu berjalan dengan baik—sekecil apa pun itu. Mungkin lampu hijau saat Anda terburu-buru, atau senyum dari seorang asing. Itulah bentuk sapaan kebaikan Tuhan untuk Anda.
Pencetus Gagasan: Anton Sulistiyono
Penulis: Google Gemini.