Apa yang diperlukan Manusia adalah Menyadari Kebiasaan Berpikirnya yang terpecah pecah sehingga pendekatan ke Kenyataan dapat menjadi menyeluruh – David Bohm

Apa yang diperlukan Manusia adalah Menyadari Kebiasaan Berpikirnya yang terpecah pecah sehingga pendekatan ke Kenyataan dapat menjadi menyeluruh

Pernahkah Anda merasa bahwa dunia ini seperti potongan puzzle yang berserakan? Kita membagi hidup ke dalam kotak-kotak: pekerjaan, keluarga, politik, agama, hingga perbedaan antara “aku” dan “kamu”.

David Bohm mengingatkan kita bahwa fragmentasi (keterpecahan) ini bukanlah sifat asli dunia, melainkan hasil dari cara berpikir kita yang keliru.

1. Penjara Label dan Kategori

Manusia cenderung memecah realitas agar lebih mudah dikelola. Kita memberi label pada segala sesuatu. Namun, masalah muncul ketika kita lupa bahwa label hanyalah alat, bukan kenyataan itu sendiri. Saat kita melihat hutan hanya sebagai “sumber kayu” atau manusia lain hanya sebagai “saingan”, kita kehilangan gambaran besarnya.

“Pikiran menciptakan perpecahan, dan kemudian mencoba menyelesaikan perpecahan tersebut. Hal ini seperti mencoba menyatukan kembali air yang telah kita potong dengan pisau.”

2. Kesadaran sebagai Cermin yang Retak

Bohm berpendapat bahwa kebiasaan berpikir kita bersifat mekanis. Kita bereaksi berdasarkan memori dan prasangka masa lalu. Pikiran kita bekerja seperti cermin yang retak; ia memantulkan realitas secara sepotong-sepotong.

Untuk mendekati Kenyataan yang Menyeluruh (Wholeness), kita tidak perlu menambah informasi baru, melainkan menyadari “retakan” dalam cara kita berpikir. Menyadari bahwa setiap pemikiran kita hanyalah satu sudut pandang, bukan kebenaran mutlak.

3. Menuju Gerakan yang Utuh (Holomovement)

Dalam fisika kuantum, Bohm memperkenalkan konsep Holomovement. Segala sesuatu di alam semesta ini saling terhubung secara mendalam (implicate order).

Pendekatan menyeluruh dimulai saat kita berhenti memandang diri kita sebagai entitas yang terpisah dari alam atau sesama. Ketika kita menyadari bahwa kebencian terhadap orang lain sebenarnya adalah luka pada jaringan kemanusiaan yang sama, di situlah penyembuhan dimulai.


Kesimpulan

Apa yang diperlukan manusia hari ini bukanlah teknologi yang lebih canggih atau strategi politik yang lebih rumit, melainkan kesadaran akan proses berpikirnya sendiri.

Jika kita bisa melihat bagaimana pikiran kita terus-menerus menciptakan “tembok” pemisah, tembok itu akan mulai runtuh dengan sendirinya. Saat itulah kenyataan yang utuh—yang penuh dengan empati dan harmoni—akan menampakkan dirinya.


Pertanyaan untuk direnungkan: Bagian mana dalam hidup Anda yang saat ini terasa paling “terpisah” atau terisolasi? Bagaimana jika Anda mencoba melihatnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan perjalanan hidup Anda?

Penulis: Google Gemini.

Gagasan oleh David Bohm.

Leave a Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*