
Kita terbiasa berpikir setiap hari—tentang pekerjaan, keluarga, masa depan, penilaian orang lain, dan tentang diri kita sendiri. Namun jarang sekali kita berhenti untuk menyadari cara kita berpikir. Kita tenggelam dalam isi pikiran, tetapi hampir tidak pernah memperhatikan prosesnya.
Ada perbedaan besar antara “berpikir” dan “menyadari bahwa kita sedang berpikir.”
Ketika kita marah, pikiran mungkin berkata, “Dia memang selalu begitu.”
Ketika kita gagal, pikiran mungkin berbisik, “Aku memang tidak cukup baik.”
Ketika kita cemas, pikiran memproyeksikan berbagai kemungkinan buruk.
Biasanya kita langsung percaya. Seolah-olah setiap pikiran adalah fakta. Padahal pikiran hanyalah peristiwa mental—muncul, bertahan sebentar, lalu pergi.
Banyak ajaran kebijaksanaan, dari praktik meditasi dalam Buddhisme hingga refleksi rasional ala Marcus Aurelius, menekankan pentingnya mengamati pikiran tanpa langsung bereaksi. Bahkan dalam pendekatan psikologi modern seperti terapi kognitif yang dipopulerkan oleh Aaron T. Beck, kesadaran terhadap pola pikir adalah langkah awal perubahan.
Namun renungan ini bukan tentang teknik atau metode. Ini tentang kesederhanaan: sekadar menyadari.
Menyadari bahwa:
-
Pikiran sering mengulang cerita lama.
-
Pikiran cenderung mencari pembenaran.
-
Pikiran bisa dramatis, reaktif, atau defensif.
-
Pikiran tidak selalu objektif.
Ketika Anda mulai aware terhadap cara Anda berpikir, sesuatu yang halus terjadi. Ada jarak kecil antara “Anda” dan “pikiran Anda.” Dalam jarak itu, ada ruang. Dan di dalam ruang itu, ada kebebasan.
Bukan kebebasan untuk mengendalikan semua pikiran—itu hampir mustahil. Tetapi kebebasan untuk tidak langsung terbawa arusnya.
Bayangkan pikiran seperti awan. Selama ini Anda merasa diri Anda adalah awan itu—gelap saat badai, cerah saat langit biru. Namun ketika Anda menyadari, Anda mulai melihat bahwa mungkin Anda adalah langitnya. Awan datang dan pergi; langit tetap ada.
Kesadaran ini tidak perlu rumit. Anda tidak harus duduk berjam-jam dalam keheningan. Cukup di sela aktivitas:
-
Saat merasa tersinggung, perhatikan: “Oh, ini pikiran yang merasa diserang.”
-
Saat merasa rendah diri, sadari: “Ini pola lama yang muncul lagi.”
-
Saat merasa bangga, lihat juga: “Ini pikiran yang ingin diakui.”
Tanpa menghakimi. Tanpa melawan. Tanpa menekan.
Hanya menyadari.
Karena sering kali penderitaan bukan datang dari peristiwa itu sendiri, melainkan dari cerita yang dibangun pikiran tentang peristiwa tersebut. Dan cerita bisa berubah ketika kita tidak lagi sepenuhnya mempercayainya.
Aware terhadap cara Anda berpikir sendiri bukan berarti menjadi dingin atau terlepas dari emosi. Justru sebaliknya—Anda menjadi lebih jujur terhadap apa yang terjadi di dalam diri. Anda melihat kemarahan sebagai kemarahan, ketakutan sebagai ketakutan, tanpa harus menambah narasi panjang.
Di sanalah kedewasaan batin bertumbuh.
Kesadaran sederhana ini adalah langkah kecil, tetapi dampaknya dalam. Karena ketika Anda menyadari cara Anda berpikir, Anda tidak lagi sepenuhnya dikendalikan olehnya. Anda mulai hidup dengan lebih sengaja, bukan sekadar bereaksi.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah kebebasan yang paling mendasar:
bukan mengubah dunia luar,
tetapi menyadari dunia batin—
sekadar menyadari saja.
Gagasan oleh Anton Sulistiyono.
Penulis Konten:ChatGpt.