
Banyak orang mengira bahwa Awareness atau kesadaran adalah sebuah garis finish—kondisi di mana kita akhirnya “tahu segalanya” dan menjadi objektif sepenuhnya. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Kesadaran sejati bukanlah merasa paling benar, melainkan memiliki keberanian untuk bertanya: “Di bagian mana aku mungkin salah?”
1. Jebakan “Lensa yang Kotor”
Bayangkan Anda memakai kacamata dengan lensa berwarna kuning. Anda akan bersumpah bahwa dunia ini berwarna kuning. Begitulah cara kerja bias. Kita tidak melihat dunia sebagaimana adanya, kita melihat dunia sebagaimana kita adanya.
Orang yang memiliki awareness tinggi menyadari bahwa kacamata yang ia pakai mungkin berdebu, tergores, atau memiliki warna tertentu yang dipengaruhi oleh masa lalu, pendidikan, dan lingkungan.
2. Bukan Menghilangkan, Tapi Mengelola
Menghapus bias sepenuhnya dari otak manusia hampir mustahil. Kita dirancang secara biologis untuk mengelompokkan informasi secara cepat agar bisa bertahan hidup. Namun, kesadaran adalah jeda antara munculnya sebuah asumsi dan tindakan yang kita ambil.
“Seseorang yang sadar tidak akan berkata ‘Aku tidak punya bias’. Ia akan berkata ‘Aku tahu aku punya bias, dan aku sedang berusaha agar itu tidak mengaburkan keputusanku’.”
3. Rendah Hati secara Intelektual
Kesadaran akan bias melahirkan kerendahhatian. Ketika kita sadar bahwa pikiran kita bisa menipu diri sendiri (melalui confirmation bias, halo effect, atau dunning-kruger effect), kita menjadi pendengar yang lebih baik. Kita tidak lagi mendengarkan untuk mendebat, tapi mendengarkan untuk mencari perspektif yang mungkin terlewatkan.
Intisari
Menjadi “sadar” berarti menjadi pengamat atas pikiran sendiri. Hari ini, saat Anda merasa sangat yakin akan sesuatu atau merasa sangat kesal terhadap seseorang, cobalah berhenti sejenak dan bertanya: Apakah ini fakta yang mutlak, atau hanya cerita yang dibuat oleh biasku sendiri?
Penulis: Google Gemini.
Gagasan oleh: Google Gemini.