
Seringkali kita merasa bahwa kita adalah Pemikiran kita. Saat Pemikiran berkata, “Aku gagal,” kita merasa hancur. Saat Pemikiran berkata, “Aku hebat,” ego kita melambung. Namun, esensi dari awareness (kesadaran) adalah menyadari bahwa ada jarak antara Pemikiran dan Si Pengamat.
1. Pemikiran Adalah Awan, Anda Adalah Langit
Bayangkan Pemikiran Anda seperti awan yang melintas di langit. Ada awan mendung yang gelap, ada awan putih yang cantik. Langit tidak pernah berubah menjadi awan; ia hanya menyediakan ruang bagi awan itu untuk lewat.
Seseorang yang memiliki awareness tidak lagi “menjadi” kemarahannya, tetapi ia berkata: “Aku menyadari ada rasa marah yang sedang melintas di Pemikiranku.”
2. Berhenti Menjadi “Autopilot”
Banyak dari kita hidup dalam mode autopilot. Kita bereaksi terhadap kata-kata orang lain, situasi macet, atau berita buruk tanpa jeda. Kesadaran adalah interupsi terhadap mode otomatis tersebut.
“Di antara stimulus (rangsangan) dan respon, ada sebuah ruang. Di dalam ruang itulah terletak kebebasan dan kekuatan kita untuk memilih respon kita.” — Viktor Frankl
Dengan menyadari Pemikiran sendiri, kita merebut kembali kemudi hidup kita.
3. Menghakimi vs. Mengamati
Kesadaran bukan berarti menghakimi diri sendiri (“Kenapa sih aku mikir begini? Dasar aneh!”). Kesadaran sejati adalah pengamatan yang jujur dan lembut. Seperti seorang peneliti yang melihat mikroskop, Anda hanya mengamati: “Oh, ternyata aku sedang merasa cemas karena takut ditolak.” Ketika Anda mampu melihat Pemikiran Anda tanpa menghakiminya, kekuatan Pemikiran tersebut untuk mengendalikan Anda mulai luntur.
Intisari Renungan
Menjadi sadar (aware) berarti berhenti menjadi budak dari narasi di kepala Anda. Anda bukan suara di dalam kepala Anda; Anda adalah sosok yang mendengarkan suara itu. Saat Anda mulai mampu melihat Pemikiran Anda sendiri, di situlah kedamaian dimulai.
Penulis: Google Gemini.
Gagasan oleh: Anton Sulistiyono.