Kesadaran Meditatif datang dengan sendirinya ketika Orang sadar bahwa sedang tidak sadar – Romo J. Sudrijanta, S.J.

Kesadaran Meditatif datang dengan sendirinya ketika Orang sadar bahwa sedang tidak sadar

Banyak orang mengira bahwa meditasi adalah sebuah perjuangan untuk mencapai kondisi pikiran yang tenang, tanpa gangguan, dan selalu fokus. Kita sering memaksakan diri untuk “harus sadar.” Namun, Romo Sudri sering menekankan bahwa pemaksaan adalah bentuk lain dari ego.

1. Menyadari “Ketidaksadaran” adalah Langkah Pertama

Kesadaran meditatif bukanlah sebuah prestasi yang diraih dengan kerja keras otot pikiran. Kesadaran itu muncul justru pada momen ketika kita menangkap diri kita sedang melamun, sedang marah, atau sedang dikendalikan oleh pikiran yang liar.

“Saat Anda sadar bahwa Anda sedang tidak sadar, pada detik itulah Anda sebenarnya sudah sadar.”

Inilah paradoks yang membebaskan. Anda tidak perlu mengusir pikiran yang melantur; Anda hanya perlu melihatnya.

2. Bukan Menolak, Tapi Mengamati

Dalam pandangan Romo Sudri, meditasi bukanlah tentang menghentikan arus pikiran, melainkan mengubah relasi kita dengan pikiran tersebut.

  • Kondisi Biasa: Kita hanyut dalam arus sungai pikiran (identifikasi).

  • Kondisi Meditatif: Kita duduk di tepi sungai dan melihat air yang mengalir (pengamatan).

Ketika kita menyadari bahwa kita sedang “tertidur” dalam rutinitas atau pikiran otomatis, “sang pengamat” di dalam diri kita terbangun. Bangunnya sang pengamat inilah yang disebut kesadaran sejati.

3. Tanpa Pilihan dan Tanpa Penghakiman (Choiceless Awareness)

Kesadaran ini datang dengan sendirinya jika kita berhenti menghakimi diri sendiri. Seringkali kita menyesal: “Duh, saya melamun lagi dalam doa.” Penyesalan ini justru menambah kebisingan baru.

Sikap yang benar adalah menerima: “Oh, saya sedang melamun.” Titik. Tanpa kata “seharusnya.” Dalam penerimaan yang jujur atas kondisi kita yang sedang tidak sadar itulah, kesadaran meditatif menyelinap masuk tanpa diundang.


Intisari Renungan

Kesadaran bukan hasil dari teknik yang rumit, melainkan buah dari kejujuran batin. Kita tidak perlu menjadi suci atau tenang terlebih dahulu untuk bermeditasi. Kita hanya perlu jujur pada momen ini—bahkan jika momen ini berisi kegelisahan.

Kesadaran meditatif adalah tindakan “pulang” ke rumah diri. Dan jalan pulang itu terbuka lebar saat kita menyadari bahwa kita selama ini sedang “tersesat” di luar sana.

Penulis: Google Gemini.

Gagasan oleh: Romo J. Sudrijanta, S.J.

Leave a Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*