Sering kali, kita mengasihi orang lain dengan syarat: jika mereka baik kepada kita, jika mereka sesuai dengan harapan kita, atau jika mereka tidak memiliki kekurangan yang mengganggu kita. Padahal, kasih yang sejati tidak mengenal syarat. Ia adalah kasih yang menerima apa adanya.
Menerima seseorang apa adanya berarti melihat mereka secara utuh—lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Ini seperti melihat sebuah lukisan yang indah. Kita tidak hanya mengagumi garis-garis yang rapi dan warna-warna yang cerah, tetapi juga menerima goresan yang mungkin tidak sempurna atau noda kecil yang tak sengaja. Semua elemen itu adalah bagian dari lukisan yang membuatnya unik dan berharga.
Seringkali, kita cenderung mencoba “memperbaiki” orang lain. Kita ingin mereka berubah agar lebih sesuai dengan standar kita. Namun, pendekatan ini justru bisa merusak hubungan. Mengasihi apa adanya bukan berarti kita menutup mata terhadap kesalahan, tetapi kita memilih untuk tetap hadir dan mendukung, bahkan ketika ada perbedaan atau kekurangan.
Kasih seperti ini menuntut kerendahan hati. Kita harus menyadari bahwa kita pun tidak sempurna dan membutuhkan kasih yang sama dari orang lain. Saat kita mampu mengasihi tanpa syarat, kita akan menemukan kedamaian dan sukacita yang lebih dalam. Kita melepaskan beban untuk terus menilai dan menghakimi, dan menggantinya dengan kekuatan untuk menerima dan memaafkan.
Jadi, mari kita renungkan, kepada siapa kita dapat menunjukkan kasih yang tulus, yang tidak mengharapkan imbalan atau perubahan? Mungkin ada teman yang membuat kita kecewa, anggota keluarga yang sulit kita pahami, atau bahkan diri kita sendiri yang sering kita hakimi. Mengasihi apa adanya adalah jalan menuju hubungan yang lebih otentik dan hidup yang lebih bermakna. Ini bukan tentang bagaimana kita mengubah orang lain, melainkan bagaimana kita mengasihi mereka di tengah-tengah ketidaksempurnaan.