Hidup sering kali terasa seperti perlombaan, di mana kita terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita melihat pencapaian mereka, gaji mereka, atau bahkan kebahagiaan yang mereka tampilkan di media sosial. Tanpa sadar, kita terjebak dalam siklus perbandingan yang melelahkan, yang hanya membawa kecemasan dan rasa tidak puas. Kita lupa bahwa satu-satunya perbandingan yang benar-benar penting adalah perbandingan kita hari ini dengan diri kita yang kemarin.Read More
Memberi nilai tambah
Setiap hari, kita memiliki kesempatan untuk menjalani hidup. Kita bangun, sarapan, bekerja, bertemu orang, dan kembali ke rumah. Rutinitas ini seringkali membuat kita lupa bahwa hidup lebih dari sekadar mengulang siklus yang sama. Hidup adalah tentang bagaimana kita memberikan arti, atau dalam kata lain, memberi nilai tambah.Read More
Hidup untuk Kenyataan
Hidup sering kali kita habiskan untuk mengejar bayangan. Kita mengejar kesempurnaan yang tidak ada, membandingkan diri dengan orang lain yang hidupnya hanya kita lihat dari luar, atau terjebak dalam kenangan masa lalu yang tak bisa diubah. Semua ini adalah ilusi, penghalang yang membuat kita tidak bisa melihat keindahan dan kekuatan dari kenyataan saat ini.Read More
Belajar dari kegagalan maupun keberhasilan
Hidup ini adalah sekolah terpanjang yang kita masuki. Kita belajar dari setiap momen, entah itu momen manis atau pahit. Dua guru terpenting dalam sekolah kehidupan ini adalah kegagalan dan keberhasilan. Keduanya mengajarkan kita pelajaran yang sangat berharga, tetapi dengan cara yang berbeda.Read More
Mengasihi Sesama apa adanya
Sering kali, kita mengasihi orang lain dengan syarat: jika mereka baik kepada kita, jika mereka sesuai dengan harapan kita, atau jika mereka tidak memiliki kekurangan yang mengganggu kita. Padahal, kasih yang sejati tidak mengenal syarat. Ia adalah kasih yang menerima apa adanya.Read More
Kerja untuk Tujuan Mulia: Membangun Nilai
Sering kali kita melihat pekerjaan hanya sebagai rutinitas harian—tukar waktu dengan uang, menyelesaikan daftar tugas, lalu pulang. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah ada makna yang lebih dalam di balik semua ini?
Saat kita menyadari bahwa pekerjaan kita memiliki tujuan yang lebih besar, pandangan kita akan berubah. Pekerjaan bukan lagi sekadar cara untuk bertahan hidup, melainkan sebuah wadah untuk mengembangkan nilai-nilai mulia dalam diri dan lingkungan kita.Read More
Bertindak berlandaskan Kebenaran, Moral dan Etika
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan pada berbagai pilihan dan keputusan. Setiap langkah yang kita ambil memiliki konsekuensi, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Sering kali, kita tergoda untuk memilih jalan pintas yang mudah, yang mungkin menguntungkan secara pribadi tetapi mengabaikan prinsip-prinsip yang lebih luhur. Namun, sebagai manusia yang berakal dan berhati nurani, panggilan sejati kita adalah untuk bertindak berlandaskan kebenaran, moral, dan etika.Read More
Melayani dengan Cara Pandang Mereka
Seringkali, kita melayani orang lain dengan cara yang kita anggap baik. Kita memberikan apa yang menurut kita dibutuhkan, menawarkan bantuan yang kita rasa paling bermanfaat, atau berbicara dengan cara yang kita pikir paling efektif. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, “Apakah ini yang sebenarnya mereka butuhkan?”Read More
Menjadikan Hukum Negara ditambah Hukum Agama sebagai Pedoman Hidup
Kehidupan ini adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan pilihan. Setiap hari, kita dihadapkan pada persimpangan di mana kita harus memutuskan jalan mana yang akan kita ambil. Agar tidak tersesat, kita membutuhkan kompas atau pedoman. Bagi seorang hamba Tuhan dan warga negara yang baik, pedoman itu tidak lain adalah perpaduan antara hukum negara dan hukum agama.Read More
Renungan: Menjadi Pelaku, Bukan Hanya Pemikir
Kita semua memiliki impian. Kita merancang rencana, memikirkan strategi, dan membayangkan kesuksesan yang akan kita raih. Pikiran kita dipenuhi dengan ide-ide brilian, dan kita merasa seolah-olah kita sudah setengah jalan menuju pencapaian. Namun, seringkali, kita terjebak dalam labirin pikiran kita sendiri. Kita terlalu nyaman dalam fase perencanaan, hingga lupa bahwa yang paling penting adalah aksi.Read More