Pikiran kita semua tidak terpisah dengan Semesta, dengan demikian pikiran dan semesta adalah satu,
dengan demikian, tidak ada pembagian atau fragmentasi. – David Bohm
Konten ditulis oleh: Google Gemini.
Pikiran dan Semesta: Sebuah Tarian Tunggal
Seringkali kita merasa bahwa “pikiran” adalah sesuatu yang terkurung di dalam tempurung kepala, sementara “semesta” adalah hamparan luas yang ada di luar sana. Kita menciptakan garis batas antara subjek (diri kita) dan objek (dunia). Namun, David Bohm mengingatkan kita bahwa garis itu hanyalah ilusi—sebuah fragmentasi yang diciptakan oleh cara kita berpikir.
1. Menghapus Sekat Antara Dalam dan Luar
Bagi Bohm, pikiran bukanlah pengamat pasif yang melihat semesta dari kejauhan. Pikiran adalah bagian dari proses semesta itu sendiri. Atom-atom yang menyusun neuron di otak kita berasal dari ledakan bintang yang sama dengan galaksi terjauh. Ketika kita berpikir, semesta sedang bergerak di dalam kita. Tidak ada titik di mana semesta berakhir dan pikiran dimulai.
2. Bahaya Fragmentasi
Masalah muncul ketika kita mulai membagi-bagi kenyataan secara kaku: “ini aku, itu kamu,” “ini bangsaku, itu bangsamu,” atau “ini manusia, itu alam.”
Catatan Penting: Fragmentasi ini bukan sekadar kesalahan teknis dalam berpikir, melainkan akar dari konflik. Jika kita merasa terpisah dari alam, kita akan merusaknya tanpa merasa bersalah. Jika kita merasa terpisah dari sesama, kita akan mudah memusuhi mereka.
3. Keutuhan yang Tak Terbagi (Undivided Wholeness)
Bohm memperkenalkan konsep Implicate Order (Urutan Tersirat), di mana segala sesuatu “terlipat” ke dalam segala sesuatu yang lain. Seperti sebuah holograf, setiap bagian mengandung informasi dari keseluruhan.
-
Pikiran kita adalah cermin dari keteraturan semesta.
-
Semesta adalah manifestasi fisik dari hukum-hukum yang juga bekerja dalam kesadaran kita.
Menghidupkan Kesadaran Baru
Menyadari bahwa tidak ada fragmentasi berarti mengubah cara kita hidup sehari-hari:
-
Empati yang Luas: Jika saya menyakitimu, saya menyakiti bagian dari sistem yang sama di mana saya berada.
-
Tanggung Jawab Kosmik: Tindakan terkecil dalam pikiran kita memiliki resonansi terhadap keseluruhan realitas.
-
Ketenangan: Kita tidak lagi merasa terasing di semesta yang luas dan dingin, karena kita adalah “rumah” bagi semesta itu sendiri.
Kesimpulan
Pikiran dan semesta adalah satu napas, satu gerakan, dan satu kesadaran. Saat kita berhenti membagi-bagi kenyataan, kita akan menemukan kedamaian yang melampaui pemahaman akal budi—sebuah persatuan yang selalu ada, namun sering terlupakan oleh bisingnya ego.